PADANG PARIAMAN — Jalan menuju Korong Durian Kasiak, Nagari Amal Selatan, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Padang Pariaman, masih gelap ketika malam tiba.
Di kawasan itu terdapat 17 kepala keluarga. Mereka membutuhkan penerangan untuk menunjang aktivitas sekaligus menjaga keamanan lingkungan setelah matahari terbenam.
Kamis (24/9) sore, sekitar pukul 16.00 WIB, saya menemui Kapolsek IV Koto Aur Malintang, Ipda Optah Jhonedi, setelah peresmian Mushola Darul Amal di lingkungan Mapolsek.
Saya bertanya, mengapa persoalan listrik warga ikut menjadi perhatian polisi?
Optah menjelaskan, kondisi lingkungan turut memengaruhi keamanan. Karena itu, polisi perlu mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat, meski tidak semuanya berkaitan langsung dengan perkara pidana.
Pada September 2026, Optah bersama pihak PLN dan pemerintah nagari mendatangi Korong Durian Kasiak. Dari kunjungan tersebut diketahui kebutuhan sekitar 30 tiang listrik untuk menerangi kawasan permukiman.
Saya kembali bertanya, apakah persoalan seperti itu memang menjadi bagian dari perhatian polisi?
Optah mengatakan, polisi tidak harus menunggu masyarakat datang membawa laporan. Menurutnya, kehadiran polisi di tengah masyarakat diperlukan agar berbagai persoalan dapat diketahui sejak awal.
Pendekatan itu dijalankannya sejak dipercaya memimpin Polsek IV Koto Aur Malintang sekitar April 2026.
Wilayah hukum Polsek tersebut mencakup lima nagari dengan sekitar 22 ribu penduduk. Sementara personel yang tersedia hanya 15 orang.
Dengan kondisi itu, Optah memilih membangun komunikasi dengan masyarakat, pemerintah nagari dan unsur kecamatan.
Camat IV Koto Aur Malintang Alkadri mengatakan kepada Sumbarkita, komunikasi tersebut memudahkan koordinasi ketika persoalan muncul di tengah masyarakat.
“Hubungan dengan masyarakat sudah seperti keluarga,” kata Alkadri.
Kedekatan itu terlihat pada Kamis sore. Warga datang ke Mapolsek bukan untuk membuat laporan polisi, melainkan membawa jama dan berkumpul dalam peresmian Mushola Darul Amal sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Salah seorang tokoh masyarakat IV Koto Aur Malintang, Azwar Wahid atau Haji Sagi, mengatakan kebersamaan tersebut juga mendapat dukungan dari para perantau.
Namun, bagi Optah, kedekatan dengan masyarakat tetap harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum.
Salah satunya terlihat dalam pengungkapan kasus pencurian kendaraan bermotor yang dilaporkan pada 24 Juli 2026.
Polisi memeriksa sejumlah saksi dan melakukan penyelidikan hingga menangkap empat orang dalam Operasi Jaran 2026 pada 8 September 2026.
Dari empat orang tersebut, polisi menduga dua di antaranya sebagai pelaku pencurian, satu sebagai perantara dan satu lainnya sebagai pembeli.
Satu sepeda motor hasil curian dijual seharga Rp900 ribu. Polisi menemukannya di Lubuk Basung, Kabupaten Agam, setelah kendaraan tersebut diubah menjadi becak bermotor.
Saya bertanya kepada Optah bagaimana ia melihat persoalan keamanan di wilayah yang luas dengan jumlah personel yang terbatas.
Ia menjelaskan, polisi tidak bisa bekerja sendiri.
Masyarakat, pemerintah nagari dan unsur kecamatan perlu ikut menjaga keamanan lingkungan.
Kapolres Pariaman AKBP Agung Pranajaya juga menekankan pentingnya deteksi dini. Menurutnya, polisi perlu mengetahui persoalan masyarakat sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan.
Selama sekitar empat bulan memimpin Polsek, Optah juga membenahi fasilitas pelayanan. Sekitar Rp120 juta digunakan untuk memperbaiki sejumlah fasilitas, termasuk menyediakan layanan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Di depan kantor, fasilitas olahraga juga tersedia dan dapat digunakan anak-anak.
Di tengah berbagai upaya itu, satu persoalan di Korong Durian Kasiak belum selesai: malam masih gelap dan sekitar 30 tiang listrik masih dibutuhkan.
Bagi 17 keluarga di sana, penerangan bukan sekadar soal lampu. Ada jalan yang harus dilalui, aktivitas yang harus tetap berjalan, dan lingkungan yang perlu tetap aman ketika malam datang.