AGAM — Pagi baru saja beranjak ketika saya tiba di sebuah kolam kawasan Koto Tinggi, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Udara masih terasa dingin. Dari pinggir kolam, air tampak tenang. Tetapi ketenangan itu segera berubah ketika Pak Bola dan Pak Ca'ul mulai sibuk di dalam kolam.
Keduanya sudah berada di sana sejak sekitar pukul 05.30 WIB.
Saya sempat bertanya, sudah sarapan?
Mereka tertawa.
Belum.
Sudah mandi?
Belum juga.
“Gosok gigi pun belum,” kata Pak Bola, disambut tawa Pak Ca’ul.
Pagi itu, rupanya urusan perut dan kebersihan diri kalah cepat dari urusan bibit ikan.
Mereka tidak sedang menangkap ikan untuk dibawa pulang. Yang sedang mereka kerjakan justru jauh lebih kecil dari yang saya bayangkan.
Ukurannya hanya beberapa milimeter.
Pak Bola dan Pak Ca’ul sedang memisahkan anak-anak ikan dari induknya. Pekerjaan yang bagi orang awam mungkin terlihat sepele, tetapi bagi pembibit nila justru menentukan berapa banyak bibit yang bisa bertahan hidup.
“Yang kecil-kecil itu harus diperhatikan. Kalau bercampur dengan yang sudah besar, bisa dimakan,” ujar Pak Bola.
Saya kembali memperhatikan permukaan kolam. Sulit melihat mana yang besar dan mana yang kecil.
Namun bagi Pak Bola, ukuran beberapa milimeter sudah cukup untuk menentukan perlakuan.
Bibit nila memang tidak semuanya tumbuh dengan kecepatan yang sama. Ada yang lebih cepat besar. Ketika ukuran mulai berbeda jauh dan tetap dibiarkan dalam satu tempat, bibit yang lebih besar dapat memangsa yang lebih kecil.
Inilah salah satu persoalan yang harus dihadapi pembibit. Bukan ikan besar yang menjadi ancaman. Justru ikan kecil yang sedikit lebih besar.
Pak Ca’ul menyebut, dari pengalaman mereka, seekor bibit yang lebih besar bahkan bisa memangsa beberapa bibit kecil dalam sehari.
“Bisa sampai sepuluh ekor yang kecil dimakannya,” katanya.
Saya membayangkan betapa kecilnya ikan yang sedang mereka selamatkan.
Ukurannya sekitar 3 sampai 5 milimeter.
Nyaris seperti titik yang bergerak di dalam air.
Tetapi titik-titik kecil itulah yang kelak diharapkan tumbuh menjadi ikan nila siap panen.
Dari pekerjaan di pinggir kolam itu, pembicaraan kemudian beralih kepada induk nila. Ada hal menarik yang mungkin tidak diketahui banyak orang.
Induk betina nila memiliki kebiasaan mengerami telur dan larva di dalam mulutnya. Dalam budidaya ikan, perilaku tersebut dikenal sebagai mouthbrooding.
Jadi, ketika pembibit mengatakan induk nila “melahirkan”, prosesnya sebenarnya berbeda dengan hewan menyusui.
Ikan terlebih dahulu memijah. Setelah telur dibuahi, induk betina mengerami telur tersebut di dalam mulut hingga berkembang menjadi larva dan kemudian anak ikan.
Setelah anak mulai keluar, pekerjaan pembibit belum selesai.
Justru saat itulah perhatian harus semakin besar. Anak-anak ikan perlu dipantau dan dipisahkan berdasarkan ukuran agar bibit yang lebih besar tidak memangsa yang lebih kecil.
Pak Bola mengatakan, berdasarkan pengalaman mereka, satu induk betina bisa kembali menghasilkan anak dalam rentang sekitar 15 hari apabila kondisi pemeliharaan mendukung.
“Makanya harus rajin dilihat,” katanya.
Saya mulai mengerti kenapa mereka bisa sudah berada di kolam sejak matahari belum tinggi. Bagi pembibit, beberapa jam saja bisa berarti.
Di Kolam, Ukuran Menentukan Nasib
Pak Ca’ul kembali mengarahkan perhatian ke kolam. Ia menunjukkan bagaimana bibit yang ukurannya berbeda harus diperlakukan berbeda.
Tidak mudah bagi saya melihatnya.
Tetapi mereka sudah terbiasa.
Mereka tahu dari gerakan, bentuk tubuh dan ukuran ikan mana yang harus dipisahkan.
Di sinilah pengalaman peternak menjadi penting.
Ilmu pembenihan memang mengenal istilah sortir atau grading, yaitu mengelompokkan ikan berdasarkan ukuran. Tujuannya bukan hanya untuk menghindari pemangsaan antarbibit, tetapi juga agar pertumbuhan lebih seragam dan pengelolaan pakan lebih efektif.
Bagi Pak Bola dan Pak Ca’ul, istilah ilmiah itu mungkin tidak selalu keluar ketika mereka bekerja.
Mereka cukup menyebutnya: pisahkan yang besar dengan yang kecil. Sederhana. Tetapi pekerjaan itu membutuhkan ketelitian.
Pembicaraan kami kemudian sampai kepada induk jantan dan betina.
Pak Bola menunjukkan ciri yang biasa mereka perhatikan. Menurut pengamatannya, ikan nila jantan cenderung memiliki warna lebih merah pada bagian ekor atau sirip. Sedangkan betina biasanya tidak semerah itu dan warna ekornya lebih menyerupai warna tubuh.
Namun warna bukan satu-satunya patokan dalam menentukan jenis kelamin nila. Dalam pembenihan, pemeriksaan ciri kelamin dan karakter fisik lainnya diperlukan untuk memastikan induk jantan maupun betina, terutama ketika seleksi induk dilakukan secara teratur.
Tetapi pengalaman di kolam membuat Pak Bola dan Pak Ca’ul memiliki kepekaan tersendiri.
Mereka sudah bertahun-tahun melihat ikan tumbuh dari ukuran yang bahkan sulit dilihat hingga menjadi ikan yang bisa dipasarkan.
Mungkin karena itu pula, mata mereka seperti sudah memiliki ukuran sendiri.
Bagi saya, tiga milimeter adalah angka.
Bagi mereka, tiga milimeter adalah ikan yang harus diselamatkan.
Matahari mulai meninggi ketika pekerjaan belum juga selesai. Saya kembali teringat pada cerita mereka. Bangun sekitar pukul 05.30 WIB.
Langsung ke kolam.
Belum mandi.
Belum sarapan.
Belum gosok gigi.
Saya bertanya, kenapa harus sepagi itu?
Jawabannya sederhana.
Bibit tidak menunggu.
Ikan tetap tumbuh meski pemilik kolam belum sempat sarapan.
Dan kalau yang lebih besar dibiarkan bercampur dengan yang kecil, yang kecil bisa menjadi santapan.
Pak Bola dan Pak Ca’ul kembali bekerja.
Air kolam bergerak pelan.
Di bawah permukaannya, ribuan bibit nila bergerak dengan ukuran yang berbeda-beda.
Yang kecil harus dijaga.
Yang besar harus dipisahkan.
Induk harus dipantau.
Semuanya dilakukan dengan sabar, pagi demi pagi.
Saat saya meninggalkan kolam, saya baru menyadari satu hal. Pembibitan ikan ternyata bukan sekadar membuat ikan berkembang biak.
Ada pekerjaan panjang untuk menjaga kehidupan yang ukurannya bahkan belum sebesar butiran beras. Dan pagi itu, Pak Bola dan Pak Ca’ul sudah mengurusnya bahkan sebelum sempat mandi, sarapan, apalagi menggosok gigi.